Kuliah Fiqih dan e-Learning

2 comments

Menurut berita di Kompas.com, UGM Kembangkan E-learning System For Academic Community - KOMPAS.com . UGM kini mengembangkan apa yang disebut sebagai Elisa atau E-learning System for Academic Community, yang melalui sistem ini dosen dapat (1) mengunggah bahan kuliah, (2) berdiskusi, dan (3) memberikan penugasan.

Pada tahap pertama, masih menurut berita tersebut, akan diunggah 116 bahan ajar yang sudah terdigitalkan. UGM tidak ingin ketinggalan karena digitalisasi bahan ajar sudah menjadi tren internasional. Nah!

Kawan-kawan mahasiswa KPI dan IKS yang pernah mengambil mata kuliah Fiqih, adakah yang "baru" dari berita ini untuk Anda? Kuliah Fiqih sudah merintis E-learning di UIN Sunan Kalijaga sejak tahun 2007, ketika kita masih begitu gagap dengan teknologi internet (coba tanya ke Dede Arianto yang sekarang jadi pakar IT dan "alumni" pertama kuliah fiqih online).

Sebagai eksperimen, Kuliah Fiqih (sekarang ada di http://kuliahfiqih.blogspot.com) sudah melewati berbagai fase perkembangan. Awanya, hanya blog dan referensi online. Lalu ketika Facebook mulai populer, Kuliah Fiqih ditambah dengan forum diskusi online di facebook.com/kuliahfiqih. Terakhir, kita sudah  menjangkau pengguna Twitter lewat @kuliahfiqih dan "SMS service".

Sama seperti yang ingin dikembangkan dalam Elisa, di Kuliah Fiqih, mahasiswa sudah bisa:
1. Mengakses semua hal terkait Kuliah Fiqih (SAP, bahan ajar, petunjuk pembuatan makalah, agenda)
2. Mengenal prinsip-prinsip etis akademik (integritas akademik, plagiarisme, dan tip sukses kuliah)
3. Mengunduh refrensi lain terkait fiqih (seperti e-Book yang terkait fiqih)
4. Mengunduh software fiqih (ilmu waris, jadwal shalat, waris, zakat, dll)

Dengan fasilitas "SMS service", kini semua informasi terbaru terkait Kuliah Fiqih sudah langsung menjangkau setiap individu mahasiswa, tidak perlu tempel-tempel kertas di dinding. SMS service juga digunakan sebagai media penyebar "frienldy reminder" tentang agenda kuliah, topik, referensi apa yang harus dibaca, dan pertanyaan-pertanyaan penting apa yang perlu dijawab. Dengan strategi yang komprehensif, tak ada lagi mahasiswa yang belum membaca bahan ajar ketika kuliah, kecuali yang ndableg :-)

Saya gembira semester ini saya diberi kesempatan oleh Prodi IKS untuk bisa menularkan pengalaman Kuliah Fiqih kepada teman-teman dosen di prodi kami. Insyallah, bulan Mei mendatang Prodi IKS akan mengadakan training e-Learning dengan tema "Internet for Academic Purposes". Harapannya, mulai tahun ajaran 2012-2013 nanti, semua dosen sudah bisa online.

Perlu kita ingat, sistem saja, seperti Elisa, tidak akan bisa berjalan kalau SDM (khususnya dosen) yang akan memanfaatkan sistem itu tidak terlatih. Di Prodi IKS, kami siapkan SDM terlebih dahulu dengan menggunakan resources gratis yang ada di Internet untuk menyelenggarakan e-Learning. Sambil kita tunggu kapan UIN Sunan Kalijaga mau menyusul UGM dan mengapresiasi upaya-upaya rintisan kami di Prodi IKS :-)


'Religion For Atheists': God, What Is He Good For?

0 comments
Agama untuk para Ateis: Apa gunanya Tuhan? ( 'Religion For Atheists': God, What Is He Good For?), begitu judul review buku di NPR ini. Apakah kaum ateis perlu agama?

Jangan salah paham. Orang Ateis tak butuh agama dan buku ini tidak menceritakan "agama kaum Ateis", melainkan menceritakan agama kepada mereka yang tidak percaya kepada agama (baca: ateis).

Anda percaya dengan makhluk halus yang dikenal sebagai Ratu Laut Selatan? Kalau tidak, saya akan menulis sebuah buku agar Anda mengerti tentang Ratu Laut Selatan dan manfaat atau gunanya percaya kepada Ratu Laut Selatan. Kurang lebih begitulah maksud buku itu.

Salah satu point penting buku ini, menurut Woods, adalah:

De Botton fluently identifies how religion traditionally addressed social needs before offering his own secular proposal for meeting them anew. For example, religion has traditionally provided a sense of community that can override divisions of class or income. We might therefore regain this sense of togetherness through rituals that mimic, say, the Eucharistic service. De Botton suggests a restaurant where "our fear of strangers would recede" and "the poor would eat with the rich." And Jerusalem's Wailing Wall might be replaced by electronic billboards "that would anonymously broadcast our inner woes," thereby reminding us that "we are none of us alone in the extent of our troubles and our lamentations."

Artinya, agama itu sebenarnya adalah ramuan sekuler dengan wadah sakral. Agama menemukan masalah-masalah sosial dan memberi solusi sekuler lewat cara-cara yang agamis: ritual. Woods, hanya saja, meragukan tawaran-tawaran buku ini. Masalah kaum ateis dengan agama, terutama, adalah soal watak kelembagaannnya yang selalu otoriter: mendikte kita soal baik dan buruk. Jadi, menurut Woods, "Religion for Atheists is provocative and well-intentioned. It is perhaps just a little too sure that it knows what is best for us."

Jakarta mau Syariah? Belajar Metopen Lagi...

0 comments

Ini adalah judul berita di situs MetroTv bebeberapa waktu yang lalu: "Survei: 77 Persen Warga Jakarta Ingin Hukum Syariah "

Sebelum membaca berita, saya sudah tidak percaya dengan hasil ini karena satu kata kunci saja: hukum syariah. Saya pernah survei di kelas, yang asumsinya lebih melek 'syariah' daripada yang di luar sana, tentang pengertian "syariah". Hasilnya, ada banyak persepsi tentang syariah. Bahkan, ketika dua pertanyaan saya ajukan: apakah Anda setuju pemberlakuan syariah dan apakah Anda setuju pemberlakuan  potong tangan, jawabannya bertolak belakang: setuju syariah dan tolak potong tangan. Artinya, kalau mau tanya ke orang, tanya dulu "syariah yang mana?"

Kalau Syariah itu berarti "agama Islam", seperti definisi yang dibuat beberapa buku Fiqih, tentu saja semua orang Islam menghendaki Syariah. Syariah = al-din. Begitu Anda masuk Islam, ya Anda tunduk pada Syariat Islam. Tetapi, jika syariah yang dimaksud adalah hukum Islam yang tercantum dalam kitab-kitab Fiqih, tentu tidak semua orang akan menerima pemberlakuannya.

Lebih penting lagi, penelitian ini hanya melibatkan 200 orang warga Jakarta!!! Come on. 200 warga Jakarta tidak bisa mewakili hampir 10 juta penduduk Jakarta, dengan metode sampling apa pun. Saya tidak tahu, apakah memang release hasil penelitian tersebut menyebut warga Jakarta atau wartawannya yang menyimpulkan sendiri. Siapa pun itu, dia harus belajar metode penelitian dulu sebelum mengumumkan hasil survei ini.

Namun demikian, apakah ada yang percaya dengan hasil survei semacam ini? Tentu saja banyak. Website HTI, al-khilafah.org bahkan meneriakkan Allahu Akbar menyetujuinya. Oh.


image: al-khilafah.org

Presentasi Kuliah 4

0 comments
Ini powerpoint singkat tentang empat mazhab Fiqih. Garis besar saja, karena lebih banyak ceritanya di kelas. Semoga bermanfaat.