November 12, 2017

"Ustadz" dan "Ahli Ilmu"

Akhir-akhir ini, dengan berkembangnya teknologi informasi dan media massa, apa yang menjadi panutan umat, siapa yang didengar umat, mulai bergeser dari definisi-definisi tradisional tentang 'ulama' dan 'kyai'. Jika dulu yang dinamakan kyiai dan menjadi panutan adalah orang tempat kita menimba ilmu dalam ikatan-ikatan keguruan yang amat dekat, sekarang kita mulai menemukan orang-orang yang didengar suaranya, diikuti pendapatnya, karena semata-mata ia oleh media disebut sebagai "ustadz", atau lebih menyedihkannya "dikontrak" dan "diorbitkan" menjadi ustadz. Jika dulu, untuk menjadi kyiai, orang dapat dipastikan belajar dan menguasai ilmu agama dengan baik, sekarang tidak lagi.

Cobalah Anda tengok pentas pemilihan da'i di TV-TV itu. Satu-satunya kualifikasi 'da'i' adalah mereka yang dapat 'ngomong' dan 'menghibur' pemirsa TV. Tidak pernah ada kontes da'i yang menayakan kualifikasi atau sayrat-syarat yang membuat sesoerang pantas 'berbicara tentang agama'. Sebab, yang penting, 'ustazd adalah yang bisa bicara tentang agama', tidak peduli apakah ia berbicara secara membeo (menghafal teks), atau ia berbicara karena memiliki pondasi keilmuan yang kokoh untuk membicarakan apa yang ia bicarakan.

Para ulama dulu di dalam kitab-kitab mereka sudah merusukan banyak syarat untuk menjadi panutan (atau 'imam') ini. Misalnya, menguasai bahasa Arab, menguasai asbab nuzul, mengetahui naskh-mansukh, menguasai ilmu bayan, dan seterusnya, yang dengan kualifikasi itu, seorang ulama akan berbicara tentang agama secara lebih utuh, berdasar, dan sekaligus dapat menjangkau konteks yang lebih luas dari apa yang ia katakan.

Di sinilah mengapa al-Qur'an mewasiatkan agar mereka yang tidak berilmu, selalu bertanya kepada ahlinya.
مَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالاً نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ [الانبياء:7].
Bertanyalah kepada "ahl dzikr, jika kalian tidak tahu.

Para ahli tafsir mengartikan ayat ini sebagai "Bertanyalah kepada Ahli Taurat, jika kalian tidak tahu" karena turunnya ayat ini terkait ketidakpercayaan orang-orang musyrik atas informasi yang disampaikan Nabi. Tetapi dengan kaidah, al-ibrah bi umum al-lafz, la bi khusus as-sabab", dapat diartikan bahwa orang yang tidak mengerti tidak boleh mengikuti pendapatnya sendiri, melainkan harus bertanya kepada yang tahu, bukan kepada yang juga tidak tahu.

Dalam konteks jaman now, salah satu ciri orang berilmu adalah: tidak menyalahkan orang lain, atau minimal tidak mudah menyalahkan orang lain. Coba perhatikan para ulama panutan seperti prof. Quraisy Shihab yang ilmu Qur'annya sudah setinggi langit; atau Gus Mus yang pemahamannya terhadap kitab kuning sudah nyaris di luar kepala. Nyaris tidak pernah kita mendengar mereka menyalahkan, atau sok mengoreksi orang.

Dalam ilmu Fikih, mereka yang membaca literatur Fikih pasti tahu benar bagaimana di hampir setiap pasal ada pendapat yang berbeda. Maka, orang yang membaca berbagai kitab, yang ahli ilmu, pasti tidak akan menyalahkan orang lain. Jika Anda bertanya kepadanya, ia akan memberi jawaban-jawaban pilihan. Apakah salat subuh harus qunut? Bisa ya, bisa tidak. Apakah salat taraweh harus delapan? bisa ya bisa tidak. Apakah fatihah harus menggunakan basmalah? Bisa ya, bisa tidak. Semua dan masing-masing pendapat ada dalilnya, ada benarnya.

Demikianlah. Jawaban tunggal dan merasa benar sendiri sesungguhnya tidak ada tempatnya dalam agama kita. Semoga kita diberi kesempatan untuk terus belajar dan menemukan berbagai sudut pandang agar kita selalu bisa menghormati orang lain.

July 12, 2017

Sekularisme Khilafah


Salah satu alasan mengapa organisasi semacam HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) tidak dapat dibiarkan menjadi benalu demokrasi adalah pandangan organisasi ini yang menolak demokrasi. Bagi HTI, demokrasi tidak dapat diterima karena berlandaskan Sekularisme. Sedangkan sekularisme mereka sebut sebagai sistem yang rusak karena “menolak peran agama (Islam) dalam pengaturan kehidupan, khususnya politik” (Buletin HTI al-Islam, No. 850, 2 Rajab 1438H). Karena ‘semena-mena’ mengkonsepsikan sekularisme menurut pemahaman mereka sendiri, pandangan HTI juga mengasumsikan bahwa Khilafah bukan sistem sekuler, karena itu antitesis dari Sekularisme. Saya menolak pandangan HTI tentang Sekularisme dan berpendapat bahwa Khilafah pun adalah sistem yang sebenarnya ‘sekuler’.
Islam tanpa Gereja
Berbeda dengan yang dipahami HTI, Sekularisme bukan sistem yang menolak agama. Apa yang ditolak oleh Sekularisme adalah “kekuasaan politik di tangan Gereja”. Sekularisme lahir di tanah Eropa yang saat itu memeluk Kristen; dan pemahaman yang tepat terhadap Sekularisme harus dikembalikan dalam konteks Eropa-Kristen. Dengan demikian, penting dicatat bahwa pernyataan “Sekularisme menolak agama”, seperti yang dianut HTI, adalah tafsir bebas yang berpeluang keliru. Sebab, “Gereja” tidak sama dengan “agama” dan “menolak kekuasaan Gereja” tidak sama dengan “menolak agama”, apalagi “menolak Islam”.
Untuk pembaca Muslim, perlu diingatkan bahwa Gereja tidak sama dengan masjid. Sebab, Gereja (dengan G kapital) tidak sama dengan gereja, bangunan, tempat ibadah. Gereja, dengan variasi institusionalisasinya, adalah pelembagaan agama dalam struktur dan kekuasaan yang hirarkis dan politis. Sebelum lahirnya Sekularisme, kekuasaan politik Gereja sungguh luar biasa. Sedemikian kuatnya perkawinan agama dan politik dalam Gereja, hingga perpecahan politik pun meniscayakan perpecahan antar Gereja.
Dalam bahasa yang lebih umum, perkawinan agama dan politik itu disebut Teokrasi, yaitu konsep yang memandang kedaulatan ada di tangan Tuhan. Dalam institusi Gereja, konsep Teokrasi mudah sekali diterapkan karena pemimpin Gereja memegang sekaligus kekuasaan sakral dan politik. Sederhananya, suara Tuhan adalah suara Gereja dan suara Gereja adalah suara Tuhan.  Dalam Sekularisme, kedaulatan Tuhan itu dapat diganti dengan apa saja, mulai dari kedaulatan para elit (arsitokrasi) hingga yang kini paling banyak dipilih orang, kedaulatan rakyat (demokrasi).
Pertanyaannya sekarang, dapatkah konsep-konsep yang lahir dari konteks yang khas Eropa-Kristen itu digunakan untuk membaca relasi agama dan politik dalam pengalaman dunia Arab-Muslim? Jawabannya tergantung kepada seberapa jauh kita dapat mencari konsep dan lembaga politik yang sepadan dan muncul dalam pengalaman historis Muslim.
Pertama, sejarah Muslim tidak mengenal institusi Gereja. Masjid tidak pernah berkembang lebih dari tempat ibadah. Di pusat-pusat kekhilafahan Islam, masjid-masjid didirikan di luar kompleks istana khalifah. Alih-alih menjadi pusat kekuasaan politik, masjid berkembang menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan. Otoritas para alim ‘penunggu masjid’ adalah otoritas ilmu pengetahuan. Apa yang terbangun dari jaringan otoritas mereka bukan jaringan kekuasaan, tetapi mazhab ilmu pengetahuan.
Para ulama ini, uniknya, tidak selalu tertarik dengan kekuasaan politik. Ada banyak kisah ‘heroik’ diabadikan yang merekam bagaimana para ulama besar dalam sejarah Islam menolak ajakan penguasa untuk menjadi hakim kerajaan (khilafah). Heroik karena penolakan mereka tidak sebatas kata-kata, penjara hingga hukuman mati mereka jalani demi independensi ilmu dari intervensi politik.
Kedua, dan sebaliknya, khilafah tidak pernah menjadi Gereja yang teokratis. Pengalaman teokrasi masyarakat Muslim sesungguhnya amat pendek, terbatas, dan khusus pada Negara Madinah yang dipimpin oleh Sang Nabi. Dengan statusnya sebagai “utusan Allah”, Muhammad SAW memiliki hak istimewa untuk berkomunikasi dengan Tuhan, menjadi juru bicara Tuhan, dan sah menjalankan kedaulatan Tuhan. Pepatah “Suara Nabi, Suara Tuhan” dapat beliau sandang melebihi kebenaran klaim “Suara Gereja, Suara Tuhan.” Sedangkan statusnya sebagai pemimpin politik dikukuhkan tidak hanya oleh komunitas Muslim yang ia pimpin tetapi juga komunitas Yahudi dan Nasrani yang terikat dalam perjanjian Piagam Madinah.
Karena status ‘teokratis’ diperoleh Muhamammad SAW dari statusnya sebagai Nabi, dan kenabian tidak dapat diwariskan, maka ‘negara teokrasi’ Madinah tidak dapat berumur panjang. Masyarakat Muslim waktu itu segera dipaksa berijtihad untuk mencari alternatifnya. Jika kita mencermati sejarah dengan detil, klaim HTI terhadap khilafah sebagai satu-satunya sistem politik Islam adalah simplifikasi ahistoris.
Khilafah itu Sekuler
Karena Teokrasi hanya berhenti pada masa Nabi, maka sistem sesudahnya dapat dipastikan tidak Teokratis. Dalam pengalaman Eropa, pergantian dari Teokrasi ke non-Teokrasi dilakukan secara revolusioner dan menghasilkan Sekularisme sebagai alternatifnya. Dalam masyarakat Muslim, pergantiannya bersifat natural. Setelah Nabi wafat dan tanpa wasiat, harus ditemukan alternatifnya. Secara teologis, mayoritas yakin bahwa pengganti Nabi Muhammad bukan seorang “nabi”, ia manusia biasa. Sebagai manusia biasa, khalifah bukan wakil Tuhan. Dalam bahasa Abu Bakar, khalifah pertama, “Saya bukan yang terbaik dari kalian... Kalau benar dukunglah, kalau keliru ingatkanlah”.
Sebagai eksperiman institusi politik, generasi pertama Muslim juga harus mendefinisikan apakah khalifah sebagai pemegang kekuasaan agama mutlak atau bukan. Perang Zakat yang digelar Abu Bakar di masa awal kepemimpinannya merekam dengan baik bahwa intervensi negara dalam penegakan kewajiban zakat adalah hasil ijtihad yang sempat diperdebatkan keabsahannya, bukan hukum doktriner bersumber dari Qur’an atau Hadits Nabi.
Eksperimen awal yang ‘demokratis’ ini dilanjutkan dengan eksperimen-eksperimen lain. Awalnya khilafah tunggal yang menyatukan seluruh Muslim; lalu sistem dua khilafah yang berbagi daulat merdeka  di dunia Islam Barat (Cordoba) dan dunia Islam Timur (Damaskus); lalu khilafah yang membawahi berbagai wilayah otonom di bawah para Sultan, dan seterusnya. Singkatnya, khilafah adalah eksperimen politik, bukan doktrin agama, bukan Gereja, dan terkait kekuasaan politik semata. Dengan kata lain, khilafah itu ‘sekuler’.
Mungkin, dengan disebut bahwa khilafah itu sekuler akan ada banyak yang kaget. Hanya saja, dalam konteks Eropa, anti-tesis Gereja itu disebut Sekularisme. Dalam konteks Indonesia kita menyebutnya menyebutnya Pancasila. Dalam sebagian sejarah Muslim, disebut khilafah. Apa pun, itu hasil ijithad politik, bukan sesuatu yang teologis dan satu-satunya yang sahih disebut “sistem politik Islam.”

ARIF MAFTUHIN
Pengajar Fikih di UIN Sunan Kalijaga dan Executive Editor di al-Jami’ah Journal of Islamic Studies.

June 29, 2017

Ilmu Agama dan Ilmu Manusia

Saat saya di Madrasah Aliyah yang mengambil jurusan khusus keagamaan, kami dibekali apa yang mungkin disebut sebagai ilmu keulamaan. Ilmu alat dasar seperti nahwu dan sharf, ilmu dasar tafsir (ulumul Qur'an), ilmu dasar Hadits (ulumul Hadits), ilmu Fiqh dan Usul Fiqih, juga ilmu kalam dan sedikit tasawuf, dan kami setiap hari bergulat dengan berbagai diskusi tentang masalah masalah keislaman dengan bekal ilmu ilmu dasar itu. Seolah olah, itu cukup.

Lalu, saya menjadi sadar itu belum cukup karena persoalan agama tak pernah bisa berhenti pada teks dan pendekatan teks. Di IAIN, untungnya, kesadaran itu adalah mainstream. Buku Tafsir Kontekstual karya Taufiq Adnan Amal, misalnya, menandai momentum kesadaran bersama itu. Catatan saya hari ini bukan sesuatu yang baru bagi orang-orang IAIN. Saya tulis untuk pembaca Facebook yang lebih luas. Intinya. Kita harus membaca melampaui teks.

Salah satunya, membaca teks sebagai manusia. Lho? Memang selama ini kita membaca sebagai apa? Kita membaca sebagai Tuhan, seolah-olah kita tahu persis pikiran Tuhan, kehendak Tuhan. Sampai kita lupa bahwa teks agama itu sebenarnya untuk manusia, dibaca oleh manusia, untuk manusia. Dengan melibatkan manusia dalam membaca ajaran agama, maka teks saja tidak pernah cukup. Ilmu Qur'an dan Hadits juga tidak cukup. Apalagi cuma terjemah Qur'an dan Hadits.

Perlunya ilmu tentang manusia untuk memahami agama itu hukumnya wajib. Bukan sekedar pelengkap. Kalau ada ungkapan, "akeh kang apal Qur'an Haditse, (tetapi) seneng ngafirke marang liyane..." itu sumbernya ya pembacaan yang tidak melibatkan manusia tadi. Qur'an dipegang dan dibaca, dipahami dalam tingkat "kedirian" yang seperti tahu pikiran Tuhan. Lalu ia menggunakan ayat-ayat seperti polisi menggunakan pasal-pasal KUHP untuk mengkategorikan manusia lain sebagai kafir, ahli bid'ah, atau sesat.

Andai ilmu ilmu manusia seperti filsafat, antropologi, sosiologi, itu termasuk dalam cabang ulumul Qur'an yang setara dengan nasikh dan masukh, atau teorinya setara dengan am dan khas, mutlaq dan muqayyad, mungkin kita tidak akan ketemu ustadz-ustadz penebar benci. Kalau jatuh pada beda tafsir dan pendapat yang berbeda, mereka setidaknya akan kembali mencontoh Imam Syafi'i, "Pendapatku benar, mengandung salah. Pendapat mereka salah, mengandung benar." Bukan "Pendapatku benar sesuai Sunnah, pendapat mereka salah dan menciptakan bid'ah."

Dari arsip

Blog Archive